Starring:
Sheina Adriani Malik
San Jeffreus
**

Muda-mudi itu jalan bertaut nan beriringan. Si gadis tampak mungil, bak kurcaci yang dituntun oleh raksasa. Kemudi dipegang baik oleh si muda, memotong langkah lebarnya agar si mungil tak perlu payah nan lelah. Tak ada kata maupun canggung yang terlontar. Dua insan itu hanyut dalam sunyi yang nikmat, yang bawa nyaman buat masing-masing.
“Menurutmu, bahagia itu apa?”, pecah si puan pada senyap.
“Suddenly?”, balasnya. Bingung sebab kelana pikiran yang dipaksa berhenti.
“Selama kita jalan tadi, I observed people that we passed by. Di pertigaan sana, ada pasangan tua yang kelihatan asik banget ngobrolnya. Tapi pas kita lewat, aku gak sengaja denger kan percakapan mereka, eh ternyata gak nyambung”, kekehnya. “Si kakek ngomongin udaranya sejuk, tau gak, si nenek jawab apa? Iya, nanti aku masakin, sayang.”
Gelegar tawa pun tak kuasa dibendung dengan dengus geli jadi penutup.
“Tapi lucunya, setelah si nenek bilang gitu, kakeknya malah ketawa dan ngelus bahu si nenek. Aku kira si kakek bakal marah, tau. Padahal aku udah siap mau beli popcorn di seberang.”
“Tch. Dasar pecinta keributan.” Pendengar itu berujar bawa gelengan pelan, disambut dengan cengir lebar si gadis.
“Terus tadi, gak jauh dari lokasi kakek dan nenek, ada Ibu sama anak kecil lagi makan es krim. Lucu banget, satu es krim berdua. Saling suap ganti-gantian. Kamu liat gak?”
“Mhm, yang itu kan?”, lalu dijawab dengan anggukan semangat si mungil.
“Pas aku keluar dari toilet, aku ngeliat ada cowok duduk sendirian di bangku taman. Dia sambil makan, sih, tapi dia nangis masa.” Wajah itu mengerut, begitu pula bahu ringkihnya kian lesu.
“Tadinya mau aku samper, tapi keburu kamu panggil. Gak jadi deh,”
“Ngapain nyamper?”, jawabnya dengan alis menukik.
“Aku kasih peluk?”
“Gak.”
Si mungil terbahak penuh puas. Lucu banget. Soraknya dalam hati. Menggoda raksasa adalah kesenangan tersendiri baginya.
“Yaudah deh. Aku jadi kepikiran, kenapa yang berdua senyum dan lucu, kok, yang sendirian nangis, ya? Memangnya sendiri semenyedihkan itu? Memang kalau berdua, pasti bahagia?”
Hening. Keduanya terdiam cukup lama, buat suasana kembali sunyi karna hanya diisi oleh derap angin yang berhembus.
Si muda menengadah kemudian berujar, “Belum tentu.”
“Hm?”
“Bahagia itu punya makna yang luas. Memang, udah banyak alat ukur yang berkembang untuk mengukur level kebahagiaan seseorang. Tapi, kita harus inget bahwa alat ukur itu punya definisi operasional masing-masing”, balasnya sambil menoleh.
Si gadis tertawa, “berasa lagi bimbingan”, disusul dengan senyum geli si muda.
“Balik ke pertanyaan kamu tadi, emangnya sendiri semenyedihkan itu? engga. Emang kalau berdua, pasti bahagia? engga juga. Kenapa? Karena manusia itu abstrak. Penuh rahasia. Kamu sendiri yang bilang ke aku, tampak bukan berarti benar, kan?”
Anggukan keluar sebagai jawaban. “Don’t judge a book by its cover?”
“Don’t judge a book by its cover.”